Thursday, October 15, 2026

From Catholicism to Gili danda


 From Catholicism to Gili danda

It is a blessing for me to be able to meet two people that have a super power over me, the power to change me. 
First is Sukmo, his super power is just being there, yup, his presence.
I remember one time, i got a big fight with my mom when i was staying at his house, i just cry my heart out about it, and he just sit there right next to me doing nothing.

The second person is the lady in the picture, she is 82 years old and still buy 10 pcs of kite and fly it by herself.
Her superpower is her wisdom, i have known her for almost 30 years (next year that is). She is like my second mom, more or less she made me who i am today. Sukmo did that too but with his own way.

I just met her again today for so many years.She lived in Australia, at senior home (of her choice). She is my mentor, from faith, social life, personal development, business and pepesan kosong LOL.

Today kita ngobrol tentang alasan kenapa dia balik ke Indonesia sama apa yang gue lakukan selama ini. Lanjut obrolan pelayanan di gereja, the why and the how. She is very active indeed. Belajar main okulele pada umur 82 tahun jeeez louis.
Trus kita ngobrol tentang Bunda Maria tentang trinitas, soo much insight yang bisa gue pake buat kontemplasi pribadi, semuanya dijelaskan macam gue anak SD, she have a knack to explain big things into a small chewable pieces, entah itu bakat atau memang terlatih.
Obrolan beralih ke bisnis, dia tanya gimana progressnya, gimana tiba-tiba gue jadi guru. Gue juga nanya kenapa dia jual bisnis dia yang di Indonesia, she is a succesful business woman by the way. Dia juga ceritain bisnis dia yang sekarang di Australia, gila dah energynya, gue minder abis.
Trus dia lungsurin buku-buku bekas dia ke gue (tentu saja kuterima dengan senyum sumringah).
Dia juga bercerita (sambil nunjukin kenapa ada layangan 10 biji di kamar dia) historynya kenapa dia (masih) senang naikin layangan.
Dia pernah tinggal di Jerman, disana dia juga sempet ke kite festival bersama orang yang lebih tua 12 tahun dari dia dan bermain layangan disana. Trus orang tua itu menunjukan permainan yang sering dia mainkan saat kecil di India bernama Gili danda. Guest what ? Ibu Tris tau permainan itu, karena sejak kecil dia juga main permainan sama di kampung Temanggung.Ibu Tris cerita bahwa dia juga menemukan permainan tersebut dimainkan di kutub utara, she was there waiting for a boat to take her to south Europe.Nama permainan itu adalah Patil /Petak Lele.

BOOM Blew your mind, akhirnya kita nanya gemini permainan itu sebenarnya ada dimana ajah sih?
Trus kita baca sambil ketawa-ketawa ngakak karena obrolan gak penting.But our laughter, it is really precious moment for me and i realize that i missed her so much.

Friday, March 21, 2025

Social Order much ?

 Kemaren waktu pulang naik grab dari kantin, Tania tiba-tiba nanya "Dad, bagaimana meningkatkan keteraturan sosial di Indonesia?"

Gue terperanjat....ni anak ga ada obrolan yang lebih ringan apa ? Pulang sekolah capek-capek abis ekskul, dia malah nanyanya gitu.

Separuhnya gue bangga anak umuran segitu udah pengen punya wawasan yang lebih daripada teman-teman seusianya, karena gue tau pasti waktu gue seumur dia boro-boro nanya keteraturan sosial, kata keteraturan ajah rasanya sesuatu yang gak gue banget LOL.

Berfikir sejenak bagaimana cara menyampaikan ke anak gue tanpa terkesan menggurui (padahal gue tau , satu-satunya alasan dia nanya ke gitu sama gue karena gue (pernah jadi) guru. Gak mungkin dia nanya hal yang kaya gitu sama emaknya, yang juga guru dan kepala sekolah.

"You are Indonesian right ?" 

"Yes i am"

Take a look at your daily life and how you consciously made your daily choice. Tau besok ada ulangan, pulang malah tidur siang...egh bablas sampe besok pagi , gak belajar. Bagaimana meningkatkan keteraturan dalam hidup ini butuh kesadaraan yang baik bagi setiap orang Indonesia. Kayak mesin yang gak ada tombol off nya, kesadaran akan keteraturan harus ada terus, karena kita tau bahwa keteraturan yang akan memudahkan hidup kita, jangan salah, life is chaos too, tetapi menjaga keteraturan adalah salah satu hal yang menjadikan pondasi hidup bersama dan bermasyarakat. 

Dikarenakan kehidupan dan alam semesta ini bersifat entropi, maka keteraturan adalah sesuatu yang tidak bisa otomatis, harus ada effort dan diperjuangkan, oleh karena itu diperlukan namanya kesadaran.

Kesadaran dalam berfikir, berucap dan bertindak. Sekarang banyak orang Indonesia yang tidak sadar dalam tiga hal itu, makanya boro-boro keteraturan, yang ada yah ketidak teraturan.

Kesadaran penuh 24/7 hanya milik Budha Gautama heheheheh.....kadang ajah daddy masih nyerobot lampu merah kok.

Semua hal yang baik dan positif itu memang harus diperjuangkan termasuk juga kesadaran. Semua hal yang di biarkan begitu saja akan jatuh ke tidakteraturan. Contohnya rumah Oma, karena sekarang tidak ada yang tinggalin dan urusin, jadi cepet rusak kan ? nah semua hal yang di biarkan akan jadi lebih buruk, bahkan sesuatu yang buruk itu mulai dari pembiaran...ignorance never actually a bliss.

Bayangkan kalau Indonesia itu negara yang lebih teratur, seperti Singapura contohnya, atau Jepang yang bisa dijadikan standard keteraturan di Asia. Dimana orang tua bisa melepas anak umur 6 tahunnya untuk pergi ke sekolah dengan kendaraan umum tanpa harus was-was dilecehkan atau diculik.

Ketika orang yang Handphone atau dompetnya tertinggal di tempat umum bisa menemukannya di tempat semula keesokan harinya.

Selain kesadaran, harga diri yang tinggi akan nilai luhur yang dianut juga bisa dijadikan faktor untuk memperoleh dan membentuk keteraturan sosial. 

Ketika sekolah masih memperjuangkan anak kecil bisa membaca dan berhitung ketimbang bagaimana caranya berbagi, berbuat baik , bersabar, tidak mengambil milik orang lain.

Ketika dengan santainya ngambil bunga buat anaknya di pekarangan rumah orang tanpa izin 

Ketika orang tua lebih bangga anaknya bisa baca ketimbang tidak menjambak rambut kakaknya ketika tantrum...maka perjalanan kita menuju keteraturan masih jauh dan panjang.

So, am i answering your question ce ?

Friday, November 29, 2024

Three left always makes a right

 Ada dua kejadian yang bisa mengajarkan hal yang sama.

KEJADIAN PERTAMA

Al melakukan kesalahan, dimarahin lah dia. Trus dia protes "But cece is also doing that".

KEJADIAN KEDUA

Tania dapet nilai jelek di ulangan matematikanya, dimarahin lah dia. Trus dia protes "But all my classroom get a bad score, it is a whole class remedial"

Gue yakin banyak banget orang tolol yang tetap merasa dirinya benar walaupun dia melakukan kesalahan, karena orang lain juga melakukannya.

Itu dia kenapa banyak orang membenarkan sesuatu, walaupun itu secara moral salah.

Pernah baca artikel dibawah ini gak ? Guru di penggal gara-gara murid berbohong

Yang males baca gue kasih tau ringkasannya yah : ada sekumpulan orang beragama memenggal seorang guru karena dianggap phobia agama, tetapi ternyata tuduhan itu bohong.

Kata "orang beragama" dengan kata "memenggal"  saja sudah miris kalau berada dalam satu kalimat.

2 kesalahan tidak akan pernah membuat hal itu jadi benar.

Persis sama dengan logika karena suku A membantai suku B , maka boleh suku B membantai suku A.

Menjustifikasi pembantaian orang Yahudi oleh Hitler dengan pembantaian orang Palestina oleh orang Israel....itu sama tololnya...apalagi yang mengeluarkan statement itu adalah orang beragama. Kecuali emang agama elo cemen ajarannya.

pernah denger ujaran "Two wrong does not makes it right"

Karena orang lain melakukan ketololan, bukan berarti elo boleh ikut tolol. Take the high road, kalau kaga ya elo emang sama tololnya.

Hal ini gue ajarin juga ke anak-anak gue. 

Daripada nanti kalau sudah besar dia kudu nyari lem buat nyambungin kepala orang #ehhh


Thursday, October 31, 2024

The subway theory

 Anak gue altair males sekolah,dia malas bangun pagi, dia males banget belajar, maunya main komputer.

Trus kemaren dia bilang, gue mau kerja ajah, di subway jadi tukang bikin sandwich..lol.

"It is easier, you just put stuff on the bread" katanya.

Gue pernah bilang bahwa dirumah ini cuma ada 2 macam orang, yang belajar sama yang cari duit or kerja.Gak boleh ada pemalas.

Dia pikir kerja jauh lebih mudah daripada belajar (jadi pelajar).

Argumen dia selalu "Kenapa gue kudu belajar ini semua kalau nanti kagak kepake ketika gue gede?" emaknya gelagapan kalau ditanyain kaya gitu, karena dia juga punya pemikiran yang sama.

Gue ? hohohoho, ntar dulu, sini gue ceramahin kenapa elo kudu bikin PR, belajar hal yang elo kagak pake, belajar untuk ulangan...

Didalam hidup yang akan elo lalui, manusia itu akan dipaksa untuk terus belajar/berkembang/berubah.Bahkan ujaran tidak ada yang kekal di dunia ini kecuali perubahan itu betul adanya.

Sekolah, walaupun keliatannya gitu-gitu ajah dan monoton, justru memiliki banyak kondisi yang menuntut perubahan dari anak-anak, kemaren matematika eh sekarang bahasa, tadi pagi sejarah sekarang biologi, minggu lalu lagi ngomongin sriwijaya eh minggu ini udah sampe majapahit.

Pelatihan yang didapat dari sekolah itu lebih kepada kebiasaan dalam menerima perubahan, kemampuan adaptasi, kemampuan belajar hal baru, kemampuan menghadapi tekanan (kalau lagi ujian), disiplin, belajar mendengarkan dan menyimak...Anak sekarang saking demen short video, span of concentration mereka sangat pendek, padahal di dunia nyata kalau mau sukses kita dituntut untuk punya konsentrasi yang cukup.

Pelatihan di sekolah adalah pelatihan yang membiasakan, pernah dengar ujaran "sukses, harus dipaksa".Itu benar di dalam kehidupan. Pernah lihat atlit olimpiade ? selama 4 tahun memaksa diri tiap hari untuk latihan, bangun pagi, makan teratur dan diatur untuk sebuah event yang belum tentu elo menang dapat medali emas.Sekolah ? terpaksa bangun pagi, terpaksa bikin PR, terpaksa belajar hal baru, terpaksa pake seragam (or not), terpaksa mematuhi aturan..semuanya serba terpaksa..."tapi aku gak merasa dipaksa", well good for you, kuncinya senanglah dengan kegiatan yang akan bikin elo sukses....dan lo and behold, kebahagiaan dan kesenangan adalah hal yang bisa elo atur sendiri.

Hidup ini kalau elo mau berhasil , ya harus di paksa, kalau elo gak paksa diri elo, orang lain atau keadaan yang akan memaksa elo, elo pikir elo seneng bekerja setiap hari ? pasti ada hari-hari elo gak pengen pergi kerja kan ? but you do it anyway...intinya hidup itu penuh dengan pemaksaan...wong gravitasi itu memaksa elo untuk tidak terlalu cepat berpindah dari satu titik ke titik yang lain.

Terlepas elo bakalan pakai rumus phytagoras dalam kehidupan sehari-hari elo atau kaga, belajar sesuatu yang baru is always a must,elo pacaran, belajar jadi pacar yang baik, elo pindah kerja,belajar lagi korporate traditionnya, SOPnya....elo punya usaha sendiri ho..ho...ho malah lebih parah, sekarang elo harus belajar semuanya dari hulu sampai hilir..."Tapi aku kan kaya , bisa hire orang untuk melakukan hal itu semua", yeah well, siap-siap di tipu....sama orang lain atau sama perasaan elo sendiri.Apalagi? menikah? belajar jadi suami (its never ending believe me),punya anak (really ?) dan ketika elo punya anak elo baru mengerti kenapa dulu elo harus sekolah.

"Yatapi, belajar kan gak harus sekolah" ya benar, bisa dimana saja, sebagai orang tua kalau elo sanggup menciptakan kondisi agar anak-anak elo bisa sustain belajar di rumah, ya silahkan ajah....wong pandemi kemaren membuktikan sebaliknya kok...banyak orang tua pengen anaknya gak dirumah dan sekolah cepet-cepet dibuka.

"Jadi mau bilang apa sama anak-anak yang gak mau sekolah?" the truth, it will set you free.

Bahwa sebagai orang tua yang nanti mati dan meninggalkan anaknya untuk hidup di dunia yang penuh paksaan ini, sekolah adalah kondisi yang baik (Bukan terbaik, karena pedagogi dasar dimulai dari orang tua/rumah) untuk mempersiapkan mereka menghadapi dunia itu.


Saturday, October 19, 2024

Tentang pemilihan OSIS

 Kemarin di mobil anak perempuanku menanyakan banyak hal tentang formulir yang sedang dia isi, formulir pendaftaran keanggotaan OSIS.

Salah satu pertanyaannya adalah "Apakah kelebihan kamu?" , dengan mudah (dan PD) dia menjawabnya.

Pertanyaan berikutnya "Apakah kekurangan kamu?", dia bingung jawabnya, beda dengan bapaknya dulu yang dididik dengan suasana negatif typical orang tua keturunan Tionghoa yang sangat kurang afeksi dalam mendidik anaknya. Selama aku hidup lebih dari 25 tahun dengan orang tuaku tidak pernah sekalipun orang tuaku, menepuk punggungku dan mengatakan "good job" atau "bagus" (Dalam arti yang baik)...kalau "Bagusss....baru dimandiin udah main kotor-kotor lagi" itu sering tuh.

Anak sekarang showered with praise, anak sekarang sedikit-sedikit "good job!", "Kamu pinter banget sih", "wah keren yah" dan lain-lain.

Mereka sekarang terlalu PD dan kurang bisa melakukan refleksi yang riil ke dalam dirinya sendiri.

Wong gak juara ajah dapet piala, gak menang ajah dapat medali, gak berprestasi dapat piagam.

Pertanyaan selanjutnya "Kenapa kamu mau jadi pengurus OSIS?"

Dengan sigap mamanya memberikan isi-isi (bukan kisi-kisi) untuk menjawab pertanyaan itu, pada saat itu juga aku menegur istriku "Gausah dikasih tau dia mau ngisi apa, biarkan dia berpikir sendiri". "Nanti kalau kita udah mati masak dia datang ke kuburan ketok-ketok batu nisan minta dibantuin isi formulir ?"

"What do you think about your kekurangan ce ?" itu kataku, "Lihat cara kamu memperlakukan adikmu dan temanmu"

"Oh, i do not tolerate idiot" 

"Ya itu kekurangan kamu, kamu sulit bertoleransi, kamu sulit menerima pendapat orang lain yang tidak sejalan dengan kamu....apa lagi ?"

Saya pun membiarkan dia berfikir dan termangu. Padahal dengan mudah kita bisa menjabarkan kesalahan atau kelemahan orang lain, tapi itu tidak saya lakukan kepadanya, karena saya ingin anak saya memiliki kemampuan untuk menganalisa dan memahami dirinya sendiri.

Kemampuan untuk melihat kedalam diri dan bertanya pertanyaan yang penting, merupakan bekal hidup manusia dewasa. Dunia ini sudah terlalu banyak sama orang yang merasa berhak atas semuanya, padahal dunia tidak pernah berhutang apa-apa kepada mereka.

Kawinan, nutup jalan umum, ibadah nutup jalan umum (padahal ajarannya menyuruh menjadi berguna bagi orang banyak- bukan nyusahin orang banyak) , minta tolong tapi marah-marah, berhutang tapi galak....entitlement is a disease.Kalau ada orang yang kamu sayangi mau mati dan butuh secepatnya di tolong, baru kamu ngerti bahwa nutup jalan umum itu merupakan tindakan yang egois.

Hal-hal seperti ini harus diajarkan kepada anak kita, bukan semata-mata memecahkan soal matematika...yang sekarang pun mereka gak gitu bisa ...even perkalian.


Monday, October 14, 2024

Pendidikan dan Kurikulum..oh bakalan ada menteri baru

 



Gue ngenes sih nonton video ini, tapi di lapangan pun gue mendapatkan hal yang sama dan relate banget sama isi video ini.

Sistem pendidikan biasanya ditentukan oleh pemerintah untuk mendukung ekonomi growth di negara itu.
Contoh, di Eropa pada zaman industri, maka sistem pendidikan didesain agar murid2 yang lulus bisa bekerja di Industri dan menopang ekonomi negara tersebut.
Era Industri Indonesia itu belum matang, malah cenderung kena skip...lihat ajah berapa banyak industri tutup dan cabut dari Indonesia...karena setiap ganti pemerintah ganti kurikulum...otomatis pendidikannya gak konsisten dan gak sustainable.....egh....tiba2 nyobain (Iya nyobain, bentar lagi juga ganti lagi) kurikulum Finlandia....
Again, gak semua....iya ngerti....tapi kudu berapa banyak ? sampai timbul kesadaran bahwa ada yang salah.
Stunting dan kemampuan orang tua dalam mendidik (kemampuan membesarkan dulu deh...) juga memperburuk kualitas sumber daya manusia dimasa yang akan datang.
Butuh kesadaran kita semua sih buat mentarget titik titik penting dalam mengurai masalah pendidikan di Indonesia.

Omelan ini tidak memberikan solusi apa-apa,,, semoga pak Abdul Mu'ti bisa memberikan solusinya.

Tuesday, May 03, 2022

2 Mei 2022

Ing ngarso sing tulodo
Ing madya Mangun Karso
Tut wuri Handayani 

Suwardi Suryaningrat adalah orang yang sangat perduli tentang pendidikan, beliau percaya bahwa modal dari kemerdekaan adalah pendidikan.
Oleh karena itu beliau ikut berjuang di dalam sekolah taman siswa, Suwardi yakin bahwa semua aspek masyarakat harus terdidik apabila ingin bangsa ini menjadi tuan di negaranya sendiri. 

Menurut statistik dari kementerian kesehatan tahun 2016, 1 dari 3 balita yang lahir di Indonesia dalam keadaan Stunting, atau mengalami keterlambatan pertumbuhan (baik otak maupun badan) karena gizi buruk. 

Jadi tahun ini para balita stunting itu masuk sekolah, adalah tugas kita sebagai anggota bangsa untuk mencoba mendidik mereka dalam hal yang simpel dan berguna, seperti kebiasaan yang baik, kinerja, semangat pantang menyerah dan nilai-nilai luhur, semuanya tidak perlu IQ yang tinggi untuk memahami tetapi akan sangat berarti bagi mereka ketika dewasa nanti.

Ini masalah yang sangat pelik, more than you know, bisa kebayang gak 10-12 tahun dari sekarang 1 dari 3 orang yang megang smartphone bego dengan komen2 di sosmed yang lebih bego lagi dan bikin konten yang super bego ? Hanya karena tumbuh kembang mereka tidak sempurna akibat kurang gizi. 

It took a whole town to educate a children. Butuh satu negara untuk mendidik generasi muda, iya setiap dari kamu harus ikut serta.

Hari ini adalah hari pendidikan Nasional, sudah saatnya semua orang Indonesia berpendidikan, tidak cuma di sekolah tetapi juga di tata krama, di sosial media dan di dalam setiap tindakan yang tidak terlihat orang lain.





Gambar Oleh Chris Lebeau - Magazine De Boekenwereld, 32: 4 (2016), p. 15, Domain Publik, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=55972091