From Catholicism to Gili danda
Her superpower is her wisdom, i have known her for almost 30 years (next year that is). She is like my second mom, more or less she made me who i am today. Sukmo did that too but with his own way.
An imbecilic journey of a man who try to see everything,love everything and think about everything on his very short existence in this Vast World of doubt,confusing and blissfull sign. Just Blurt it out of my finger.
Kemaren waktu pulang naik grab dari kantin, Tania tiba-tiba nanya "Dad, bagaimana meningkatkan keteraturan sosial di Indonesia?"
Gue terperanjat....ni anak ga ada obrolan yang lebih ringan apa ? Pulang sekolah capek-capek abis ekskul, dia malah nanyanya gitu.
Separuhnya gue bangga anak umuran segitu udah pengen punya wawasan yang lebih daripada teman-teman seusianya, karena gue tau pasti waktu gue seumur dia boro-boro nanya keteraturan sosial, kata keteraturan ajah rasanya sesuatu yang gak gue banget LOL.
Berfikir sejenak bagaimana cara menyampaikan ke anak gue tanpa terkesan menggurui (padahal gue tau , satu-satunya alasan dia nanya ke gitu sama gue karena gue (pernah jadi) guru. Gak mungkin dia nanya hal yang kaya gitu sama emaknya, yang juga guru dan kepala sekolah.
"You are Indonesian right ?"
"Yes i am"
Take a look at your daily life and how you consciously made your daily choice. Tau besok ada ulangan, pulang malah tidur siang...egh bablas sampe besok pagi , gak belajar. Bagaimana meningkatkan keteraturan dalam hidup ini butuh kesadaraan yang baik bagi setiap orang Indonesia. Kayak mesin yang gak ada tombol off nya, kesadaran akan keteraturan harus ada terus, karena kita tau bahwa keteraturan yang akan memudahkan hidup kita, jangan salah, life is chaos too, tetapi menjaga keteraturan adalah salah satu hal yang menjadikan pondasi hidup bersama dan bermasyarakat.
Dikarenakan kehidupan dan alam semesta ini bersifat entropi, maka keteraturan adalah sesuatu yang tidak bisa otomatis, harus ada effort dan diperjuangkan, oleh karena itu diperlukan namanya kesadaran.
Kesadaran dalam berfikir, berucap dan bertindak. Sekarang banyak orang Indonesia yang tidak sadar dalam tiga hal itu, makanya boro-boro keteraturan, yang ada yah ketidak teraturan.
Kesadaran penuh 24/7 hanya milik Budha Gautama heheheheh.....kadang ajah daddy masih nyerobot lampu merah kok.
Semua hal yang baik dan positif itu memang harus diperjuangkan termasuk juga kesadaran. Semua hal yang di biarkan begitu saja akan jatuh ke tidakteraturan. Contohnya rumah Oma, karena sekarang tidak ada yang tinggalin dan urusin, jadi cepet rusak kan ? nah semua hal yang di biarkan akan jadi lebih buruk, bahkan sesuatu yang buruk itu mulai dari pembiaran...ignorance never actually a bliss.
Bayangkan kalau Indonesia itu negara yang lebih teratur, seperti Singapura contohnya, atau Jepang yang bisa dijadikan standard keteraturan di Asia. Dimana orang tua bisa melepas anak umur 6 tahunnya untuk pergi ke sekolah dengan kendaraan umum tanpa harus was-was dilecehkan atau diculik.
Ketika orang yang Handphone atau dompetnya tertinggal di tempat umum bisa menemukannya di tempat semula keesokan harinya.
Selain kesadaran, harga diri yang tinggi akan nilai luhur yang dianut juga bisa dijadikan faktor untuk memperoleh dan membentuk keteraturan sosial.
Ketika sekolah masih memperjuangkan anak kecil bisa membaca dan berhitung ketimbang bagaimana caranya berbagi, berbuat baik , bersabar, tidak mengambil milik orang lain.
Ketika dengan santainya ngambil bunga buat anaknya di pekarangan rumah orang tanpa izin
Ketika orang tua lebih bangga anaknya bisa baca ketimbang tidak menjambak rambut kakaknya ketika tantrum...maka perjalanan kita menuju keteraturan masih jauh dan panjang.
So, am i answering your question ce ?
Ada dua kejadian yang bisa mengajarkan hal yang sama.
KEJADIAN PERTAMA
Al melakukan kesalahan, dimarahin lah dia. Trus dia protes "But cece is also doing that".
KEJADIAN KEDUA
Tania dapet nilai jelek di ulangan matematikanya, dimarahin lah dia. Trus dia protes "But all my classroom get a bad score, it is a whole class remedial"
Gue yakin banyak banget orang tolol yang tetap merasa dirinya benar walaupun dia melakukan kesalahan, karena orang lain juga melakukannya.
Itu dia kenapa banyak orang membenarkan sesuatu, walaupun itu secara moral salah.
Pernah baca artikel dibawah ini gak ? Guru di penggal gara-gara murid berbohong
Yang males baca gue kasih tau ringkasannya yah : ada sekumpulan orang beragama memenggal seorang guru karena dianggap phobia agama, tetapi ternyata tuduhan itu bohong.
Kata "orang beragama" dengan kata "memenggal" saja sudah miris kalau berada dalam satu kalimat.
2 kesalahan tidak akan pernah membuat hal itu jadi benar.
Persis sama dengan logika karena suku A membantai suku B , maka boleh suku B membantai suku A.
Menjustifikasi pembantaian orang Yahudi oleh Hitler dengan pembantaian orang Palestina oleh orang Israel....itu sama tololnya...apalagi yang mengeluarkan statement itu adalah orang beragama. Kecuali emang agama elo cemen ajarannya.
pernah denger ujaran "Two wrong does not makes it right"
Karena orang lain melakukan ketololan, bukan berarti elo boleh ikut tolol. Take the high road, kalau kaga ya elo emang sama tololnya.
Hal ini gue ajarin juga ke anak-anak gue.
Daripada nanti kalau sudah besar dia kudu nyari lem buat nyambungin kepala orang #ehhh
Anak gue altair males sekolah,dia malas bangun pagi, dia males banget belajar, maunya main komputer.
Trus kemaren dia bilang, gue mau kerja ajah, di subway jadi tukang bikin sandwich..lol.
"It is easier, you just put stuff on the bread" katanya.
Gue pernah bilang bahwa dirumah ini cuma ada 2 macam orang, yang belajar sama yang cari duit or kerja.Gak boleh ada pemalas.
Dia pikir kerja jauh lebih mudah daripada belajar (jadi pelajar).
Argumen dia selalu "Kenapa gue kudu belajar ini semua kalau nanti kagak kepake ketika gue gede?" emaknya gelagapan kalau ditanyain kaya gitu, karena dia juga punya pemikiran yang sama.
Gue ? hohohoho, ntar dulu, sini gue ceramahin kenapa elo kudu bikin PR, belajar hal yang elo kagak pake, belajar untuk ulangan...
Didalam hidup yang akan elo lalui, manusia itu akan dipaksa untuk terus belajar/berkembang/berubah.Bahkan ujaran tidak ada yang kekal di dunia ini kecuali perubahan itu betul adanya.
Sekolah, walaupun keliatannya gitu-gitu ajah dan monoton, justru memiliki banyak kondisi yang menuntut perubahan dari anak-anak, kemaren matematika eh sekarang bahasa, tadi pagi sejarah sekarang biologi, minggu lalu lagi ngomongin sriwijaya eh minggu ini udah sampe majapahit.
Pelatihan yang didapat dari sekolah itu lebih kepada kebiasaan dalam menerima perubahan, kemampuan adaptasi, kemampuan belajar hal baru, kemampuan menghadapi tekanan (kalau lagi ujian), disiplin, belajar mendengarkan dan menyimak...Anak sekarang saking demen short video, span of concentration mereka sangat pendek, padahal di dunia nyata kalau mau sukses kita dituntut untuk punya konsentrasi yang cukup.
Pelatihan di sekolah adalah pelatihan yang membiasakan, pernah dengar ujaran "sukses, harus dipaksa".Itu benar di dalam kehidupan. Pernah lihat atlit olimpiade ? selama 4 tahun memaksa diri tiap hari untuk latihan, bangun pagi, makan teratur dan diatur untuk sebuah event yang belum tentu elo menang dapat medali emas.Sekolah ? terpaksa bangun pagi, terpaksa bikin PR, terpaksa belajar hal baru, terpaksa pake seragam (or not), terpaksa mematuhi aturan..semuanya serba terpaksa..."tapi aku gak merasa dipaksa", well good for you, kuncinya senanglah dengan kegiatan yang akan bikin elo sukses....dan lo and behold, kebahagiaan dan kesenangan adalah hal yang bisa elo atur sendiri.
Hidup ini kalau elo mau berhasil , ya harus di paksa, kalau elo gak paksa diri elo, orang lain atau keadaan yang akan memaksa elo, elo pikir elo seneng bekerja setiap hari ? pasti ada hari-hari elo gak pengen pergi kerja kan ? but you do it anyway...intinya hidup itu penuh dengan pemaksaan...wong gravitasi itu memaksa elo untuk tidak terlalu cepat berpindah dari satu titik ke titik yang lain.
Terlepas elo bakalan pakai rumus phytagoras dalam kehidupan sehari-hari elo atau kaga, belajar sesuatu yang baru is always a must,elo pacaran, belajar jadi pacar yang baik, elo pindah kerja,belajar lagi korporate traditionnya, SOPnya....elo punya usaha sendiri ho..ho...ho malah lebih parah, sekarang elo harus belajar semuanya dari hulu sampai hilir..."Tapi aku kan kaya , bisa hire orang untuk melakukan hal itu semua", yeah well, siap-siap di tipu....sama orang lain atau sama perasaan elo sendiri.Apalagi? menikah? belajar jadi suami (its never ending believe me),punya anak (really ?) dan ketika elo punya anak elo baru mengerti kenapa dulu elo harus sekolah.
"Yatapi, belajar kan gak harus sekolah" ya benar, bisa dimana saja, sebagai orang tua kalau elo sanggup menciptakan kondisi agar anak-anak elo bisa sustain belajar di rumah, ya silahkan ajah....wong pandemi kemaren membuktikan sebaliknya kok...banyak orang tua pengen anaknya gak dirumah dan sekolah cepet-cepet dibuka.
"Jadi mau bilang apa sama anak-anak yang gak mau sekolah?" the truth, it will set you free.
Bahwa sebagai orang tua yang nanti mati dan meninggalkan anaknya untuk hidup di dunia yang penuh paksaan ini, sekolah adalah kondisi yang baik (Bukan terbaik, karena pedagogi dasar dimulai dari orang tua/rumah) untuk mempersiapkan mereka menghadapi dunia itu.
Kemarin di mobil anak perempuanku menanyakan banyak hal tentang formulir yang sedang dia isi, formulir pendaftaran keanggotaan OSIS.
Salah satu pertanyaannya adalah "Apakah kelebihan kamu?" , dengan mudah (dan PD) dia menjawabnya.
Pertanyaan berikutnya "Apakah kekurangan kamu?", dia bingung jawabnya, beda dengan bapaknya dulu yang dididik dengan suasana negatif typical orang tua keturunan Tionghoa yang sangat kurang afeksi dalam mendidik anaknya. Selama aku hidup lebih dari 25 tahun dengan orang tuaku tidak pernah sekalipun orang tuaku, menepuk punggungku dan mengatakan "good job" atau "bagus" (Dalam arti yang baik)...kalau "Bagusss....baru dimandiin udah main kotor-kotor lagi" itu sering tuh.
Anak sekarang showered with praise, anak sekarang sedikit-sedikit "good job!", "Kamu pinter banget sih", "wah keren yah" dan lain-lain.
Mereka sekarang terlalu PD dan kurang bisa melakukan refleksi yang riil ke dalam dirinya sendiri.
Wong gak juara ajah dapet piala, gak menang ajah dapat medali, gak berprestasi dapat piagam.
Pertanyaan selanjutnya "Kenapa kamu mau jadi pengurus OSIS?"
Dengan sigap mamanya memberikan isi-isi (bukan kisi-kisi) untuk menjawab pertanyaan itu, pada saat itu juga aku menegur istriku "Gausah dikasih tau dia mau ngisi apa, biarkan dia berpikir sendiri". "Nanti kalau kita udah mati masak dia datang ke kuburan ketok-ketok batu nisan minta dibantuin isi formulir ?"
"What do you think about your kekurangan ce ?" itu kataku, "Lihat cara kamu memperlakukan adikmu dan temanmu"
"Oh, i do not tolerate idiot"
"Ya itu kekurangan kamu, kamu sulit bertoleransi, kamu sulit menerima pendapat orang lain yang tidak sejalan dengan kamu....apa lagi ?"
Saya pun membiarkan dia berfikir dan termangu. Padahal dengan mudah kita bisa menjabarkan kesalahan atau kelemahan orang lain, tapi itu tidak saya lakukan kepadanya, karena saya ingin anak saya memiliki kemampuan untuk menganalisa dan memahami dirinya sendiri.
Kemampuan untuk melihat kedalam diri dan bertanya pertanyaan yang penting, merupakan bekal hidup manusia dewasa. Dunia ini sudah terlalu banyak sama orang yang merasa berhak atas semuanya, padahal dunia tidak pernah berhutang apa-apa kepada mereka.
Kawinan, nutup jalan umum, ibadah nutup jalan umum (padahal ajarannya menyuruh menjadi berguna bagi orang banyak- bukan nyusahin orang banyak) , minta tolong tapi marah-marah, berhutang tapi galak....entitlement is a disease.Kalau ada orang yang kamu sayangi mau mati dan butuh secepatnya di tolong, baru kamu ngerti bahwa nutup jalan umum itu merupakan tindakan yang egois.
Hal-hal seperti ini harus diajarkan kepada anak kita, bukan semata-mata memecahkan soal matematika...yang sekarang pun mereka gak gitu bisa ...even perkalian.
Gue ngenes sih nonton video ini, tapi di lapangan pun gue mendapatkan hal yang sama dan relate banget sama isi video ini.
Sistem pendidikan biasanya ditentukan oleh pemerintah untuk mendukung ekonomi growth di negara itu.